Kini Saatnya Memahami Hakikat Israel!

Oleh: Dr. Fayez Rashid

Langkah yang sekarang dilakukan Israel dengan meresmikan tempat ibadah (sinagog) di sisi msjid al Aqsha di kota lama al Quds merupakan pendahuluan untuk meletakkan batu pertama Kuil Sulaiman Ketiga yang mereka klaim, yang pasti akan dibangun setelah penghancuran masjid al Aqsha. Langkah ini tidak datang terpisah dan berdiri sendiri dari pendahuluan-pendahuluan dan serangkaian langkah-langkah yang sudah dimulai Israel sejak tahun 1967, setelah dikeluarkannya keputusan untuk mencaplok wilayah tersebut dari Knesset pada bulan Oktober 1967, yang bertujuan untuk melakukan yahudisasi Kota al Quds, karena dianggap sebagai ibu kota tunggal yang abadi bagi Israel.

Langkah ini juga merupakan bagian dari dasar-dasar strategi terpadu Israel, dalam visinya melakukan kompromi dengan Palestina dan bangsa Arab. Langkah ini tidak datang terpisah dan berdiri sendiri dari garis politik Israel, yang masih menjadi sifat umum, yang tercetak dengan sidik jarinya, bagi perilaku politik taktik Israel sejak berdirinya negara Israel hingga saat ini.

Setelah deklarasi Negara Israel pada 15 Mei 1948 dan masuknya militer Arab ke Palestina pada tahap itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa pada waktu itu mengumuman gencatan senjata antara pihak pertama dan kedua. Pihak Arab komitmen dengan gencatan tersebut dan Israel melanggarnya. Ketika Count Bernadotte menentang pelanggaran tersebut, Israel membunuhnya di siang bolong. Dan PBB saat itu tidak melakukan apa-apa, kecuali mengeluarkan pernyataan kecamanan (melalui Arab) atas pembunuhan utusannya ke Palestina.

Israel menolak dan Arab terus melanjutkan komitmennya melaksanakan resolusi PBB mengenai masalah Palestina. Israel terus melakukan semua perang terhadap orang-orang Arab dan melancarkan serangan terhadap hak-hak Palestina setiap hari. Meskipun ada protes Arab dan juga masyarakat internasional secara keseluruhan. Persis seperti saat menolak untuk menghentikan permukiman di Tepi Barat.

Israel telah menyatakan dan tetap menyatakan menolak kembalinya pengungsi Palestina ke tanah air mereka Israel menetapkan pandangannya untuk solusi dengan Palestina melalui ungkapan serba “tidak” yang sudah sanga terkenal, terhadap semua hak-hak nasional Palestina. Israel juga telah menetapkan masa depan hubungannya dengan negara-negara Arab, melalui langkah-langkah negosiasi langsung dengan mereka, tapi tanpa syarat di muka, atas dasar: perdamaian untuk perdamaian, dan bukan, perdamaian untuk (pengembalian) tanah.

Sebaliknya dua belah pihak, Arab dan Palestina, mengambil langkah-langkah yang tidak mencerminkan pengetahuan realitas yang sesunguhnya tentang Israel, tentang hakikat Israel yang sesungguhnya. Meskipun yang disebut terakhir secara sangat jelas dan transparansi melakukan langkah-langkah dan terus mempraktekkan aksi permusuhan.

Palestina: meskipun Israel secara terangan-terangan, melalui perundingan sia-sia yang dilakukan perundingan dengan Palestina, meskipun demikian Palestina tetap berpegang pada prinsip perundingan, sebagai satu-satunya pilihan untuk solusi dengan Israel.

Arab: demikian juga strategi Arab melalui langkahnya melakukan perdamaian dengan Israel, jauh dari pendekatan lain atau cara lain, bertapapun yang dilakukan Israel, inisiatif Arab masih saja berada di atas meja. Terakhir adalah keputusan Komisi Pemantau Tinggi Arab yang menyetujui perundingan tidak langsung antara Otoritas Palestina dan Israel. Dan keluarlah keputusan Pemerintah Israel yang menyetujui pembangunan 1600 unit rumah baru di al Quds, untuk menghambar perundingan ini untuk sementara dan tidak membatalkannya, tidak pada level Palestina atau Arab. Demikian juga langkah s yang mendirikan sinagog dan peresmiannya di al Quds Timur.

Secara Historis: fakta-faksi telah membuktikan bahwa Israel hanya merespon satu bahasa, yaitu bahasa kekerasan.

Dari analisis realitas saat ini, tidak ada isyarat yang menunjukkan adanya kemungkinan perubahan kecil sekalipun dalam strategi hubungan Palestina dengan Israel dan strategi kompromi dengannya, bahkan tidak ada perubahan kecil sekalipun dalam strategi Arab terhadap Israel. Dua hal terakhir adalah kesalahan strategis Palestina dan Arab, yang tidak sesuai dengan karakter konsep Israel maupun juga dengan apa yang dipraktekan oleh langkah-langkah kebijakan politiknya, semuanya dalam konsep strategis Israel. Untuk itu hasilnya adalah: Israel terus melanjutkan apa yang selama ini dipraktekkan berupa aksi-aksi permusuhan setiap hari terhadap hak-hak Palestina, dan lainnya terhadap Arab. Hal ini menyebabkan:

Pertama: Israel terus memperlakukan Palestina dan bangsa Arab dengan perlakukan yang merendahkan. Tidak akan ada harapan munculnya reaksi yang kuat dan berpengaruh dari mereka yang mempengaruhi kebijakan Israel. Negera Zionis akan terus memperlakukan Palestina dan Arab melalui sudut pandang yang merendahkan dan superioritas, melecehkan dan mengecilkan meskipun melakukan penghancuran Masjid al-Aqsha dan mendirikan Kuil Sulaiman di atas reruntuhan al Aqsha.

Kedua: Israel akan terus dengan sikapnya yang keras kepala dalam masalah kompromi dan semakin keras pendirian. Hal ini mengarah pada pemaksaan dikte-dikte dan pandanga Israel, bukan hanya dalam hal kompromi saja, tetapi dalam hubungan antara keduanya dan indikasi-indikasi lainnya yang masih banyak, terutama hegemoni Israel di seluruh kawasan.

Ketiga: Israel terus mengabaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai legitimasi internasional dan resolusi yang telah dan akan dikeluarkan mengenai masalah Palestina, mengenai hak-hak nasional Palestina, atau mengenai hak-hak beberapa negara Arab (Suriah dan Lebanon) di wilayah-wilayah mereka yang diduduki Israel.

Keempat: Israel terus mengabaikan masyarakat internasional sebagai akibat tidak adanya sarana tekanan Arab yang bersatu, aktif, kuat, berpengaruh dan memaksa kepada masyarakat internasional, agar melakukan tekanan terhadap Israel untuk taat kepada kehendaknya. Hal yang sama juga terjadi dalam konteks perlakukan Israel terhadap Amerika Serikat sebagai mitra koalisi yang bagi menonjol dan strategis bagi Israel.

Kelima: Israel terus memperlakukan Palestina dan Arab, berdasarkan kebijakan pencegahan dan kekuatan, yang pertama dan terakhir, adalah kebutuhan keamanan Israel dengan mengorbankan bangsa Palestina dan bangsa Arab.

Sleanjutnya: bukankah kini saatnya untuk memahami hakikat sebenarnya Israel? Apakah strategi Palestina dan Arab akan tetap sama seperti ini? Apakah cara perundingan hanya satu? Apakah inisiatif Arab tetap tersedia di meja (perundingan)?

Harian Qatar al Syarq (asw)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d bloggers like this: