Maulid Nabi Muahhamd S.A.W

qrsgt0_mohammad
Bulan Rabiul Awwal tinggal satu minggu lagi, bulan yang lebih dikenal dengan bulan Maulid dimana Masjid-masjid/ Surau/ Mushola/ Masjlis Ta’lim sebagian besar sudah punya sekedjul kegiatan seiring dengan hadirnya bulan Rabiul Awwal. Seiring dengan semakin meningkatnya tingkat pemahaman ilmu agama dan semakin banyaknya firkoh/ golongan, tak jarang terjadi polemik bagi sebagian umat muslim yang baru memahami ilmu agama atau mempelajari agama tidak mulai dari asas yang paling dasar. serta kurang berbesar hati dalam menyikapi segala perbedaan.

Peringatan maulid nabi adalah bukan perkara yang baru dalam tharikh/ syirah islam.Peringatan maulid nabi untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriah) dari Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama “Saladin”.

Pada masa itu dunia Islam sedang mendapat serangan-serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Yerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja! Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual.

Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Dia mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad saw., 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini dirayakan secara massal.

Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Bagdad, ternyata khalifah setuju. Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah (1183 Masehi), Sultan Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan maulid nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 Hijriah) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far al-Barzanji*). Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid nabi.

Ternyata peringatan maulid nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjid al-Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini.

Di Iraq Utara, semangat merayakan Maulid tidak kurang semaraknya. Di negara 1001 Malam ini Maulid dilaksanakan secara besar-besaran sejak tahun 1200-an. Bahkan mungkin sebelum itu pun sudah dilakukan dalam suasana yang lebih sederhana.

Dikatakan sambutan ini paling meriah di Kota Karbala. Di kota ini persiapan Maulid dimulai sejak bulan pertama Hijriah. Khemah-khemah dan pondok-pondok kayu didirikan dan hewan ternak dikorbankan untuk jamuan para tetamu. Lebih dari itu, diadakan juga ceramah, bacaan doa dan pelbagai kegiatan kesenian yang berunsur Islam.

Kemungkinan dari sini bermulanya asal-usulnya Maulid yang akhirnya menjadi tradisi umat Islam, Wallahu A’lam. Yang jelas, setelah tahun 1200-an, sambutan Maulidur Rasul semakin berkembang di negara-negara Islam yang lain. Di Turki, perayaan Mevlut, nama Maulid di sana, bukan saja diisi dengan khutbah dan pembacaan syair-syair tentang kemuliaan Rasulullah, bahkan seluruh masjid dan tempat ibadah dihiasi dengan lampu dan lilin. Sambutan Maulidur Rasul di beberapa negara Islam di Afrika Utara juga disesuaikan dengan budaya setempat. Di Maghribi misalnya, Maulid diisi dengan pembacaan syair-syair irfani

Di China, pada tarikh kelahiran Rasulullah, Muslim di sana datang ke masjid dengan pakaian yang cantik untuk mendengar bacaan al-Quran dan ceramah para ahung (ulama). Seperti di tempat-tempat lain, isi ceramahnya berkisar tentang kisah perjuangan Rasulullah saw. “Baginda datang dengan ajaran tauhid,” kata para ahung. “Maka sebagai orang Islam, dalam diri kita harus tertanam semangat tauhid. Tuhan hanyalah Allah dan Muhammad saw adalah utusan-Nya.”

Di Republik Islam Iran, perayaan maulid ini dirayakan dengan lebih meriah. Seringkali juga negara Akhund (ulama) itu mengadakan perlbagai seminar dan ceramah berkaitan kehidupan baginda saw. Acara Maulidur Rasul disambut selama seminggu mulai 12 Rabiul Awwal sehingga 17 Rabiul Awwal. Seluruh bandar dihiasi lampu dengan warna yang indah. Pada hari-hari itu masyarakat Iran mempunyai tradisi yang unik, yaitu membagi-bagikan kue-kue atau kurma kepada para pejalan kaki yang kebetulan lalu lalang di depan rumah atau kedai mereka.

Pada zaman Imam Khomeini, kerajaan Iran telah memasyhurkan bahwa tanggal 12 hingga 17 Rabiul Awal sebagai “Minggu Perpaduan Umat Islam”. Program Minggu Perpaduan ini diadakan setiap tahun dengan mengundang para ulama dari pelbagai negara Islam, termasuk Malaysia untuk membincangkan isu-isu global yang berkaitan dengan masalah umat Islam masa kini.

Tetapi bagi mereka yang faham agamanya agak materialistik, penggunaan lilin, lampu, bacaan syair, selawat dan ceramah seperti yang dilakukan oleh kebanyakan umat Islam tersebut, digolongkan sebagai bid’ah dholalah – bid’ah yang sesat. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa itu semua adalah refleksi kecintaan umat yang tulus kepada Muhammad saw.

Namun merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw – yang merupakan suatu peristiwa bersejarah dalam peradaban umat manusia – menurut para fuqaha sebagai bid’ah hasanah (good inovation). Pada tahun 1991, satu fatwa telah dikeluarkan oleh Syaikh Muhammad al-Khazraji, seorang mufti besar kerajaan Uni Emirat Arab dan juga seorang pengarang kitab-kitab Islam yang menjelaskan bahawa meskipun Maulidur Rasul dengan pelbagai perkembangannya hingga sekarang ini tidak diamalkan pada masa-masa permulaan Islam, namun nilai keagungannya dalam menanamkan benih kecintaan kepada Nabi saw sangat penting. Apatah lagi hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah. Maka pada kenyataannya perayaan Maulidur Rasul ini adalah perkara yang sangat dianjurkan (mustahab) sebagai medium untuk menumbuhkan kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad saw.

Meskipun begitu, kita dapati ada segolongan umat Islam yang condong kepada mazhab Wahabi menolak perayaan Maulidur Rasul ini, yang mereka namakan sebagai Bid’ah. Bagaimanapun tulisan ini mencoba memetik pandangan para ulama besar seperti Ibnu Hajar, al-Suyuti, al-Nawawi, al-Syaukani dan ulama-ulama salafi yang lain, di mana di dalam karya-karya mereka menegaskan dukungan terhadap perlunya perayaan Maulidur Rasul.

Ibnu Taimiyah (w. 728 H), seorang ulama Syria, menulis: “Merayakan dan memberi rasa hormat kepada kelahiran Rasulullah saw dan memandangnya sebagai saat-saat yang bersejarah sebagaimana yang dilakukan saudara Muslim adalah suatu perbuatan positif. Di dalam perbuatan itu terkandung ganjaran yang besar dari sisi Allah kerana dengan niat tulus dan ikhlas mereka menghormati Baginda Muhammad saw .” (Fatwa, vol. 23, hlm.163).

Murid kesayangannya, Ibnu al-Qayyim memberikan komentarnya: “Mendengarkan senandung indah pada perayaan kelahiran Nabi saw atau merayakan setiap peristiwa suci dalam sejarah Islam akan memberikan ketenteraman dan akan dicucuri rahmat oleh sinar kasih Rasulullah saw”. (Madarij al-Salikin, hlm. 498).

Dalam tradisi kaum salaf, para ulama telah menghasilkan karya-karya sebagai tanda penghargaan terhadap perayaan Maulidur Rasul yang secara khusus dibacakan pada setiap kali perayaan itu. Salah satu di antaranya adalah karya Ibnu Kathir bertajuk Maulid – yang mungkin terbaik – di antara karya-karya kaum salaf itu. Mufassir besar ini memulai Maulidnya dengan mengatakan:

“Malam kelahiran Nabi agung itu adalah suatu malam yang penuh berkah, penuh kesucian, kemuliaan dan keagungan. Malam itu juga merupakan malam yang penuh anugerah, kesucian, penuh pancaran sinar cahaya dan malam yang tak ternilai harganya bagi para pengikut setia Muhammad saw.”

Walaupun pelbagai usaha daripada pihak yang menolak perayaan Maulidur Rasul ini dengan mengumandangkan slogan “Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah”, untuk mencampakkan tradisi kasih-sayang kaum Muslimin ini, namun para ulama tetap berusaha melestarikan tradisi ini.

Dengan keadaan kaum Muslimin yang semakin hilang bimbingan serta suri tauladan dalam kehidupan mereka setiap hari, maka syair yang membuat airmata mengalir, selawat dan doa yang membasahkan jiwa, ceramah yang penuh dengan nada cinta serta tradisi yang suci ini perlu terus hayati. Ketika keadaan umat Islam hari ini yang memerlukan aura lebih banyak untuk menyalakan kembali api cinta terhadap Rasulullah, maka masyarakat kita seharusnya tidak meremehkan perayaan-perayaan Maulidur Rasul dan apa saja tradisi yang dapat menumbuhkan kecintaan pada yang terkasih, pembimbing dan junjungan kita Muhammad saw – selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah.

Lebih membimbangkan, apabila benih kecintaan ini mulai hilang dari kita, akan datang suatu masa, suatu generasi yang tidak mengenali sama sekali siapa Muhammad saw., seperti mana kita sekarang telah kehilangan sejarah tentang Sayyidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Fatimah az-Zahra, dan seluruh keluarga Nabi saw.

Wallahu a’lam bis shawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d bloggers like this: