Empat Penjara Yang Lebih Menyesakkan

December 17, 2008

Oleh : Seng Guan CPLHI

Seorang lelaki dengan wajah tertunduk lesu berjalan meninggalkan ruang sidang, ketukan palu sang Hakim telah mengantarnya pergi jauh dari kebebasan, ia akan segera menikmati hari-hari panjangnya di PENJARA.

Ini adalah gambaran keseharian dari sebuah peradilan, gambaran keseharian dari sebuah fenomena kehidupan sosial yang mulai terkontaminasi oleh kuman-kuman kehidupan.

Ada kalanya keahlian berkelit dari “Sang Tersangka” melepaskannya dari jeratan PENJARA Jasmani, tapi “Sang Pelaku” tidak akan pernah lepas dari Empat PENJARA Hati.

Penjara Pertama adalah Jail of Hatred/ Kebencian
Ketika hati kita dipenjara oleh kebencian kita akan cenderung menjadi ganas, ada luapan emosi yang membara, tak terkendali, menunggu waktu letupan.

Penjara pertama ini membuat kita menderita lebih dari yang kita perhitungkan, Penjara ini malah membuat kita melukai diri sendiri dengan gambaran yang berulang-ulang di benak kita, gambaran dari sumber kebencian kita, gambaran yang sesungguhnya hanya dari alam MAYA, dari alam bawah sadar kita. Ada sakit yang luar biasa, ketika seorang atau sesuatu yang kita benci melewati jarak pandang kita, radar ngilu di hati segera berbunyi walau seseorang atau sesuatu itu tidak menyentuh kita sedikit pun, bahkan mungkin tak mengetahui keberadaan kita. Rekaman rasa sakit segera diputar berulang-ulang di benak kita, kita akan mengalami penyiksaan bathin berkali-kali untuk satu peristiwa yang sama.

Kala Penjara ini menutup hati kita, kita akan menerima bola-bola lumpur yang siap kita lemparkan kepada mereka yang berada dalam list “MUSUH”. Ketika kita meluncurkan bola itu, ada dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, yang dilempar tidak mengelak dan menerima bola lumpur itu sekaligus ikut menemani kita dalam perjara pertama atau yang kedua, ia mengelak bahkan tak pernah menganggap bola lumpur itu ada.

Dari dua alternatif di atas, yang pasti kita menjadi korban pertama dari bola lumpur itu, karena bola lumpur itu telah mengotori tangan kita, kita telah masuk ke dalam penjara itu dan teraniaya di sana.

Oleh berlalunya waktu dan penerimaan atas kondisi serta kekuatan memaafkan, penjara ini akan terbuka secara perlahan-lahan, kita akan dibebaskan kembali ke alam netral.

Penjara Kedua adalah Jail of Greed/ Ketamakan
ketika mata kita hijau, semua seakan tak pernah tercukupi, kita akan menjadi orang TERMISKIN di dunia, kita cenderung akan mengambil bagian yang bukan menjadi hak kita, kita cenderung merampas hanya untuk memenuhi keinginan yang pada akhirnya tak akan pernah terpenuhi.

Kala Penjara ini menutup hati kita, kita sepertinya terlahir sebagai raksasa dalam dunia kurcaci, tidak ada rasa kecukupan dalam segala hal, kerakusan membawa kita tidak pernah bisa menikmati hidup, selalu ada derita karena merasa tak pernah puas.

Mari kita lihat dunia nyata saat ini, berapa banyak orang yang ingin segera kaya, lalu setelah kaya pingin lebih kaya lagi, padahal orang kaya tanpa kepuasaan sebenarnya adalah orang miskin yang punya banyak uang, fenomena inilah yang membuat kita sering mendengar banyak kasus korupsi yang mewabah bak penyakit menular.
Penjara kedua akan terbuka dan kita akan dibebaskan jika kita telah siap menerima keadaan, merasa puas (bukan pasif tapi aktif, dalam arti tidak tinggal diam) serta mensyukurinya apa yang didapatnya saat ini.

Penjara Ketiga adalah Jail of Jealous/ Iri Hati
Ketika benih iri tertanam, kita cenderung tak pernah dapat melihat kebahagiaan orang lain, kita merasa tersaingi, ego kita seakan terhina oleh keberhasilannya, ironisnya kita merasa menderita untuk kebahagiaan itu.

Kala Penjara ini menutup hati kita, kita segera dikenakan kacamata yang membuat kita selalu melihat seolah-olah rumput tetangga selalu lebih hijau dari milik kita. Lalu kita pun merasa alam tidak adil terhadap kita, kita akan segera mempersalahkan sekelilingi kita untuk hal yang tidak kita dapatkan.

Yang mengejutkan malah terjadi pada saat kita mendengar kesuksesan orang yang bermil-mil jauhnya dari kita, apa yang kita rasakan pada saat itu sungguh ironis, kita malah merasa iri (padahal apa hubungannya dengan kita? Kadang malah tidak ada hubungan sama sekali dengan aktivitas kita, lebih parah lagi kita malah iri dengan teman kita sendiri, dengan saudara kita sendiri, dengan orang-orang yang kita kenal) Hasilnya? Hanyalah penderitaan, ada perasaan tidak mengenakkan di hati.
Penjara ini terbuka ketika hati kita menyadari atas ketidakkekalan (baik kesuksesan atau kegagalan), dan kita dapat menerima keberhasilan orang lain sebagai pemicu keberhasilan kita.Penjara Keempat adalah Jail of Ignorance

Penjara keempat adalah kebodohan
Kebocoran pengetahuan ini membuat kita melakukan tindakan-tindakan bodoh yang bukan hanya merugikan orang lain, tapi lebih terutama merugikan diri kita sendiri.

Kala Penjara ini menutup hati kita, kabut kebodohan menyelimuti kita, membuat kita tak menyadari bahwa kita telah merusak diri kita sendiri, perlahan tapi pasti kita terjerumus dalam jurang “Ketagihan” yang luar biasa.

Bentuk yang paling sering kita lihat dalam kehidupan ini adalah kecanduan bahan-bahan narkotika, ketika kita terpikat olehnya, kabut kebodohan secara perlahan mengerogoti kita, kita kehilangan harta benda, kita kehilangan kesadaran, kita kehilagan persaudaraan, kita kehilangan segalanya, lalu apa yang kita dapat? Kenikmatan sesaat yang hanya bersifat semu, dan ketika kita kembali ke dunia nyata, sejumlah persoalan nyata telah siap menerkam kita bahkan mungkin dengan kekuatan yang sepuluh kali lipat dari kekuatan semula.

Penjara ini membuat kita kehilangan akal sehat, merokok merupakan contoh dalam bentuk sederhananya (sebelum berkembang menjadi kronis).
Lalu, penjara ini akan terbuka jika kita isi hati dan pikiran kita dengan pengetahuan-pengetahuan yang berguna, terutama pengetahuan MORAL dan AGAMA.

Keempat penjara ini ada dan terus ada di samping kita, kita hanya perlu menjaga hati ini agar tidak terpenjara di dalamnya. Benar kata AA Gym, “Jagalah hati, jangan kau kotorin. Jagalah hati, lentera hidup ini. Jagalah Hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, cahaya illahi”

“Janganlah berbuat kejahatan, perbanyak berbuat kebajikan, sucikan hati dan pikiran, itulah ajaran semua Guru” Petuah-petuah ini mungkin akan membuat kita terhindar dari empat penjara hati.

Selamat mencoba.


Kesuksesan Sama Dengan Ukuran Seberapa Besar Anda Menguntungkan

September 17, 2008

Oleh : Tommy Setiawan

Kesuksesan kerap dimaknai secara DANGKAL sebagai ukuran dari apa yang telah kita raih. Padahal hakikat kesuksesan itu adalah ukuran dari seberapa besar kita mendatangkan keuntungan bagi orang lain. Saat Anda telah dinilai mampu “memberikan” manfaat, maka materi hanyalah sebagian kecil saja dari hasil yang akan didapat.

Mari kita tengok sejenak profil orang-orang yang telah menapaki jenjang kesuksesan, di bidang apapun mereka berkarya. Pencapaian lahiriah mereka, baik popularitas maupun penghasilannya, selalu akan menimbulkan decak kagum. Serba gemerlap memang. Namun bila hanya itu yang terlihat, maka sesungguhnya Anda baru melihat KULIT-nya saja dan belum mampu memahami ESENSI-nya.

Pemahaman akan esensi kesuksesan menjadi sangat penting karena akan menghindarkan kita dari kehilangan arah. Kenyataannya, banyak sekali orang yang akhirnya bertanya-tanya mengapa kesuksesan itu BELUM juga terwujud, meskipun ia secara disiplin telah menjalankan langkah-langkah kongret seperti:

* menyusun goal setting
* membuat visualisasi impian
* mengikuti biografi orang-orang sukses
* dan masih banyak lagi kiat-kiat sukses lainnya

Inilah saatnya Anda merenungkan satu pertanyaan pokok, “Apakah yang telah saya lakukan ini akan membawa manfaat untuk orang lain..?”

Ini adalah Hukum Alam, Hukum Sebab-Akibat, bahwa semakin besar kontribusi Anda bagi kebaikan semesta, maka semakin besar pula APRESIASI alam semesta pada Anda, tentunya atas seijin Beliau Yang Maha Kuasa. Inilah hakikat kesuksesan. Tebarkanlah manfaat, lalu serahkan hasilnya pada Sang Maha Pemurah. Ingat, komputasi alam semesta adalah sebuah proses yang super canggih, …..dan juga super JUJUR.

Sebagai contoh, kita dapat belajar dari sosok presenter-komedian, Tukul Arwana. Selalu bepergian menggunakan Toyota Alphard, hanya bermodalkan banyolan sederhana. Sekilas kita mungkin berkomentar,”Kok enak ya…?” Namun bila kita menggunakan mindset MANFAAT seperti di atas tadi, akan nampak kenyataan berikut ini:

* Ribuan orang yang terhibur dengan banyolannya yang “sederhana” itu
* Kenaikan rating stasiun TV yang menyiarkannya
* Tim pendukungnya yang juga sukses meniti karir di dunia hiburan
* Produk consumer goods yang omsetnya terbantu dengan Tukul sebagai endorser

Dengan sekian banyak MANFAAT yang diberikan Tukul, rasanya tidak berlebihan bila alam semesta mengapresiasinya dengan materi berlimpah, termasuk Alphard tadi.

Hakikat kesuksesan ini berlaku di semua lini kehidupan. Sebagai contoh lain, bila kita terinspirasi dengan sosok seorang Top Level Executive, yang selalu dibalut dengan setelan jas Armani dan berkendaraan BMW seri terbaru, mungkin ini saatnya Anda melihat kenyataan berikut ini:

* Betapa sentuhannya telah menjadikan perusahaannya sangat produktif
* Rekan kerjanya yang menjadi tentram karena yakin perusahaan selalu profitable
* Klien perusahaan tersebut yang merasa mantap dalam bermitra

Bukankah lipahan materi pada sang Top Executive tersebut sungguh sepadan dengan kontribusinya pada “lingkungannya”? Ya, Tuhan Sang Maha Pemberi Rejeki selalu bekerja dengan sangat RASIONAL. Karena itu, Beliau pun menghendaki agar kita menjalani hidup ini dengan mindset yang rasional pula.

Sampai di titik ini, kita tentu sepakat bahwa langkah pokok dalam membangun kesuksesan adalah membangun KAPASITAS dari diri ini, sehingga kita akan mampu memberikan MANFAAT yang maksimal pada lingkungan tempat kita berkarya.

Rejeki akan datang dengan cara yang tak terduga. Bisa datang dari bisnis kita sekarang, ataupun bisnis kita kelak yang lebih sesuai dengan kapasitas kita. Bisa datang dari perusahaan tempat kita bekerja sekarang, atau dari perusahaan lain kelak. Dimanapun kita berkarya, pastikan bahwa kita terfokus dalam membangun KAPASITAS.

Secara spiritual dikatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat. Bahkan Beliau Sang Maha Kuasa telah mengatakan bahwa manusia tidak diutus ke dunia kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam… Ini adalah sebuah kenyataan universal, bukan monopoli agama tertentu saja. Dalam falsafah Jawa kuno juga dikenal istilah hamemayu hayuning bawana (mempercantik bumi yang indah ini).

Seberapa jauh kesuksesan dari kondisi kita saat ini, adalah setara dengan seberapa besar MANFAAT yang sudah kita berikan pada lingkungan kita. Ditulis oleh Tommy Setiawan, seorang trainer, penulis dan pengamat industri MLM. Tommy dapat dihubungi melalui blowbytommy@yahoo.com atau melalui 0812 80 56772